IMG_1862

Judul buku : Sekotak Kertas

Pengarang : Narnie January

 

 

Novel ini menunjukkan kehidupan seorang gadis remaja yang hidup dengan Obsessive Compulsive Disorder. Ketakutan, kecemasan, dan ritual tanpa henti menguasai gadis tersebut.
Sang Ayah tak pernah lelah mendukung, membimbing dan menguatkannya untuk belajar menguasai diri sendiri, mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya dan membebaskan diri dari sekotak kertas penyelubung hidup.

 

——o0o——

 

IMG_1861

Judul buku : Mekkah; Memoar Luka Seorang TKW

Pengarang : Aguk Irawan MN

 

 

Novel ini mengisahkan kekerasan terhadap pekerja asing di tanah suci Arab, melibatkan abdi negara. Namun kerajaan Arab Saudi mengabaikannya. Midah seorang gadis asal Indramayu mengadu nasib menjadi TKW di sebuah keluarga di Mekkah. Perlakuan semena-mena terhadap Midah dilakukan oleh keluarga majikan.
Kebaikan supir majikan yang akhirnya menyelamatkan Midah keluar dari ‘rumah neraka’ tersebut. Tetapi pelarian tersebut akhirnya tercium oleh majikannya; yang akhirnya mengirim Midah  ke penjara. Hukum cambuk yang diterima Midah membuatnya menderita hingga akhir khayatnya.

 

——o0o——

 

I am Malala-edited

Judul buku : I am Malala: gadis kecil ditembus peluru demi sekolah

Pengarang : Nur Ihsan

Penerbit :  Kata Media, Jakarta 2013, 124 hal.

 

 

Buku ini memuat kisah seorang gadis Pakistan yang luar bisa keberaniannya dalam melawan segala bentuk tirani kekuasaan Taliban melalui tulisannya.

Di dalam bus sekolah, pria bersenjata melontarkan timah panasnya mengenai leher gadis kecil itu. Malala dioperasi di Rumah sakit Pakistan untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepala dan lehernya.

Kemudian Malala dirawat di RS Queen Elizabeth di Birmingham, Inggris. Bagaikan keajaiban dia bisa selamat dari maut. Walaupun peluru disarangkan ke tubuhnya, namun tidak membuatnya gentar sedikitpun dan tetap menjadi aktivis untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan.

Dukungan datang dari segala penjuru dunia dan Malala juga dinominasikan untuk menerima Nobel Perdamaian Anak International tahun 2014. (SL)
Catatan:
Malala berhasil mendapatkan hadiah Nobel pada tanggal 10 Oktober 2014.

 

Ditulis oleh Ibu Lis

——o0o——

 

Judul buku : Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

Pengarang : Tere-Liye.

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama,  124 hal, Jakarta 2010.

Cerita fiksi ini mengisahkan kehidupan Tania, seorang gadis bersama Dede adiknya.
Kehidupan keras yang dijalani dengan mengamen di bis kota, mempertemukannya dengan Danar, laki-laki baik hati yang akhirnya mengangkat kedua kakak beadik tersebut berkehidupan lebih baik. Kegigihan Tania dan Dede menjadikan mereka berhasil meraih pendidikan tinggi.
Tania pada awalnya menganggap Danar sebagai kakak, ternyata dia jatuh cinta. Cinta tersebut dipendamnya hingga akhirnya Danar menikah dengan Ratna.
Ternyata Danar diam-diam juga mencintai Tania.
Seiring dengan berjalannya waktu, Ratna merasa sedang bersaing mendapatkan cinta Danar dengan sesuatu yang amat besar. Sesuatu yang amat besar bagi Danar sedangkan Ratna tidak tahu siapa dan apa itu.

 

Ditulis oleh Ibu Lis

——o0o——

 

Kenangan Masa Lampau-edited

Judul buku : Kenangan Masa Lampau

Pengarang : Mien Soedarpo (otobiografi)
( Alih bahasa: Toenggoel P. Siagian)

Penerbit: Yayasan Sejati, Jakarta 1994
ed.1 cet.1. 105 hal

 

 

Gadis-gadis Indonesia, yang pernah bersekolah di sekolah berbahasa pengantar Belanda, suka menulis buku harian. Juga ada yang kelak menyimpan korespondensinya.

Sangat jarang mereka kelak menulis autobiografinya. Mungkin hal itu disebabkan oleh usia yang terlalu senja, sehingga banyak peristiwa terlupakan.

Mien Soedarpo adalah seorang penulis autobiografi yang langka. Ia mengungkapkan riwayat hidupnya pada waktu daya ingatnya (dibantu buku hariannya) masih baik ketika memasuki usia 70 tahun.

R.A. Minarsih Wiranata Koesoemah ( Mien Soedarpo) lahir di Bandung, 25 Januari 1924. Ia adalah putri bungsu R.A.A.M. Wiranatakoesoemah, pria ningrat asal sunda (Jawa Barat) yang menikah dengan seorang gadis Minangkabau ( Sumatera Barat): Sjarifah Nawawi pada 29 Mei 1916.

Sayang sekali pernikahan ini berakhir ketika Mien masih berusia tiga bulan, kakaknya (Nelly) empat tahun dan abangnya(Moeharam) tujuh tahun.
Di Bukittinggi Sjarifah membesarkan ketiga anaknya. Ia tidak pernah mengajar anak-anaknya untuk membenci sang Bapak, tetapi mereka harus cinta dan menghormatinya. Ia bekerja sebagai kepala suatu sekolah putri.

Pada waktunya mereka dimasukkan ke sekolah dasar dengan pengantar bahasa Belanda (ELS). Setelah tamat ELS Moeharam dikirim ke Jakarta untuk meneruskan pelajaran ke sekolah menengah HBS KW III, juga dengan pengantar bahasa Belanda. Ia kemudian disusul olh Nelly.

Mien merasa bahagia tinggal di Bukittinggi, di tengah Kakek, Nenek, Ibu dan saudara ibu, termasuk pengasuhnya( Nini Ami) yang masih kerabat jauh Bapak.

Kini giliran Mien yang pindah ke Jakarta menuju sekolah yang sama seperti Nelly dan Moeharam. Kakek dan Nenek sudah meningal dunia. Bersama Ibu ia ke Jakarta. Di Jatinegara Ibu bekerja sebagai Kepala Sekolah Kemajuan Istri.

Pada waktu itu, Bapak masih menjadi Bupati Bandung, merangkap sebagai anggota Volksraad, yang berkedudukan di Jakarta. Hubungan dan pertemuan dengan Bapak makin akrab. Pada masa libur anak-anak berkunjung ke Kabupaten Bandung dan bertemu dengan kerabat pihak Bapak.

Sebagai anak dari keluarga yang pecah, Mien menikmati kasih sayang Ibu dan Bapak, sekalipun kedua orang tuanya hidup berpisah.

Sebagai siswa HBS KW III Mien juga aktif menjadi anggota perkumpulan siswa Indonesia ”Oesaha Kita’ dengan menjadi bendahara, kemudian sebagai ketuanya. Selain itu ia juga anggota OSIS dan Kepanduan.

Pada awal Januari 1942 Mien duduk di kelas 5 dan akan menempuh ujian akhir bulan Mei tahun itu.

Menjelang masuk Indonesia, Jepang membuat suasana di Jakarta semakin tegang. Mereka mulai membantu Medan, Palembang dan Surabaya. Tarakan sudah didudukinya.

Sepulang sekolah, para siswa ditarik menjadi sukarelawan sebagai operator telepon atau membari pertolongan pertama pada kecelakaan dilingkungannya.

Serangan Jepang makin gencar dimana-mana. Mereka telah mendarat di Banten, Indramayu dan Rembang. Cepu telah musnah. Pada hari Minggu, 3 Maret 1942, Panglima Tentara Belanda menyerah kepada Balatentara Jepang.

Selama bulan-bulan pertama pendudukan Jepang, kegiatan dilakukan di rumah dengan belajar agama Islam, bahasa-bahasa: Arab, Sunda, Indonesia dan Jepang.

Ibu berhenti mengajar dan aktif dalam organisasi-organisasi wanita dan pendidikan wanita dan anak-anak tidak mampu.

Bulan September sekolah-sekolah dibuka kembali. Sekolah-sekolah Belanda ditutup. Mien mengulang pelajaran tahun terakhir di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) pimpinan Bapak Adam Bachtiar. Mien lulus pada 20 April 1943.

Kemudian Mien ke Bandung untuk menjadi sekretaris pribadi Bapak dengan gaji 10 gulden/bulan. Setelah itu ia bekerja di Kantor Pusat PTT sampai April 1944, lalu ia kembali ke Jakarta.

Ia masuk Fakultas Farmakologi dan bersama mahasiswa Fakultas Kedokteran pernah menjadi anggota delegasi mahasiswa ke Bandung pada suatu konfrensi mahasiswa yang menghasilkan suatu resolusi.

Pada usia 21 tahun ia sudah menemukan jatidirinya dan membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Pada 16 Juli 1945 sebanyak 250 mahasiswa Kedokteran dan Farmakologi memulai latihan kemiliteran. Para mahasiswa dipekerjakan di rumah sakit (CBZ) dibagian-bagian: bedah, anak dan kebidanan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, ia menjadi sukarelawan PMI, ditempatkan di rumah sakit, untuk merawat korban-korban pertempuran diseluruh kota.

Sebulan kemudian ia bekerja di kementrian Penerangan, bagian penerbitan Majalah Mingguan. Disamping itu ia juga membantu siaran RRI.

Dalam melakukan tugas-tugasnya, ia bertemu dengan beberapa tokoh a.l. Bung Sjahrir yang belum pernah dikenalnya. Ia ingin sekali bertemu dengan tokoh tersebut. Hal itu dimungkinkan lewat kedua asisten beliau; Soedarpo dan Soejatmoko.

Perkenalan dengan Soedarpo Sastrosatomo berujung dengan pernikahan mereka berdua. Untuk itu diperlukan izin dari Ibu, Mamak dan Bapak. Bung Sjahrir memberi nasehat agar mereka berhati-hati dan perlu dipikirkan baik-baik, karena mereka masing-masing berasal dari latar belakang yang berbeda dan dibesarkan dengan cara yang berbeda pula.

Ditengah kesibukan mereka masing-masing, pernikahan dilangsungkan di Jakarta, 28 Maret 1948, hanya untuk keluarga dan teman-teman dekat. September 1948 ia menyusul suaminya dengan membawa Shanti, anak pertama mereka dalam keranjang bayi ke Amerika Serikat.

Soedarpo adalah salah satu anggota delegasi Indonesia yang ikut memperjuangkan pengakuan Kemerdekaan Indonesia di PBB.

Buku ini merupakan bagian pertama autobiografi Mien Soedarpo

 

 

Ditulis oleh Ibu Mimi Aman

Jakarta, 10 Oktober 2014

——o0o——

 

cover sokola rimba resized

Judul buku : Sokola Rimba

Pengarang : Manurung, Butet

Penerbit Kompas, Jakarta 2013

xxiv, 314 hal, cetakan 2

 

Bukanlah suatu tugas yang mudah untuk memberi pendidikan kepada suku terasing. Butet Manurung, seorang antropolog dan pecinta alam, telah mengalaminya.

Lewat suatu LSM konservasi bernama WARSI, Butet diterjunkan di tengah hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) di Jambi (1999). Sebagai fasilitator pendidikan bagi orang rimba yang tinggal disana.

Adapun TNBD seluas 60.500 ha dihuni oleh orang-orang rimba (Suku Anak Dalam, Orang Kubu), yang hidup berkelompok dengan populasi 1300 orang (WARSI, 1997).

Sudah ratusan tahun mereka berdiam di wilayah ini dan selama ini kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi dalam habitatnya.

Namun orang-orang rimba mulai terdesak oleh orang-orang desa,transmigran dan para pembalak liar. Hutan mereka semakin menipis dengan dibukanya perkebunan-perkebunan sawit.

Persentuhan dengan pihak luar membuat mereka mengenal hal-hal baru, seperti sepeda dan sepeda motor. Terjadilah transaksi timbal balik. Mereka menjual rotan dan karet sadapan dari hutan. Sayangnya sering kali dalam transaksi jual beli mereka ditipu.

Orang-orang rimba tidak menyukai pendidikan, karena hal itu merusak adat-istiadat mereka dan (dianggap) dapat berakibat kualat.

Selama hampir empat tahun Butet tinggal di rimba dekat kelompok-kelompok Orang Rimba. Ia hidup seperti Orang Rimba, sambil mendalami kehidupan mereka. Ia sering dijadikan narasumber mengenai hal-hal di luar dunia mereka. Ada yang memintanya untuk mengajar bersepeda atau naik sepeda motor. Awalnya ia tidak lagi menyinggung mengenai pendidikan. Ia pernah diusir oleh mereka.

Namun, justru anak-anak rimba minta “Sokola” (belajar) kepada Butet. Mereka ingin belajar baca tulis, berhitung. Hal ini dipenuhi Butet bila ia ikut mereka ke hutan, belajar ditengah alam, bukan di dalam kelas berdinding empat.

Ia juga menyempurnakan sistem mengajar yang mudah diserap oleh anak-anak rimba, sehingga dalam waktu relatif singkat mereka menguasai pelajaran-pelajaran yang mereka terima, sudah 12 orang anak rimba yang mengikuti pendidikannya.

Sementara itu Butet merasa perlu mendidik anak-anak itu untuk menjadi kader-kadernya. Menurut pendapatnya tidaklah cukup bila hanya belajar membaca-menulis-berhitung.

Sekali sebulan ia ke kantor WARSI di Bangko dan bertemu kembali dengan rekan-rekannya. Bersama teman-teman yang sepaham ia mengadakan tukar pendapat (brain – storming) mengenai program pendidikan yang sebetulnya diperlukan oleh anak-anak rimba. Hasilnya adalah beberapa program yang berguna bagi mereka di kemudian hari.

Ternyata WARSI tidak setuju dengan gagasan tersebut, karena fokus utamanya adalah konservasi. Butetpun meninggalkan LSM itu pada 1 Oktober 2003.

Usaha berikutnya adalah mencari dana. Ketika dana sudah cukup tersedia, dengan bantuan teman-teman yang bergabung kembali, dilaksanakanlah program-program yang sudah digagas bersama demi mewujudkan impian mereka (awal Juli 2004). Fokusnya adalah anak-anak rimba yang pernah ikut pendidikan yang diberikan oleh Butet di TNBD.

Sebuah sekolah asrama (boarding school) dibentuk. Lalu di sekolah sentra inilah kader-kader tinggal, belajar dan mencukupi kehidupannya sendiri.

Tidak semua pelajaran dilakukan didalam kelas, juga ada acara-acara diluar kelas. Para penghulu adat diundang untuk berbincang-bincang. Anak-anak rimba juga belajar mengungkapkan pendapatnya. Mereka juga diberi pemahaman tentang etika dan sistem perikehidupan dunia luar, selain mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kerimbaan.

Pada 13 April 2005 “SOKOLA” dilegalkan dengan akta notaris sebagai perkumpulan.

Pada awal 2007 para kader sudah menguasai bahasa Indonesia yang baik, sehingga lingkungan pergaulannya meluas, juga dengan dunia luar.

Program SOKOLA telah di ujicobakan di tempat-tempat lain; misalnya Makassar, Aceh pasca tsunami, Flores, Kajang, Halmahera dll (akhir 2004) dan di P. Komodo dan suku Asmat, Papua (2013). Dengan demikian telah didirikan 14 program di seluruh Indonesia.

Usaha SOKOLA bagi suku-suku terasing maupun marjinal patut dihargai oleh pemerintah, Bantuan dana akan banyak membantu pengurangan keterbelakangan suku-suku terasing dan marjinal di Indonesia.

Mental yang tangguh, kesabaran, cinta alam, cinta anak-anak, dan cinta tanah air merupakan modal berharga. Butet telah membuktikannya.

 

 

Ditulis oleh Ibu Mimi Aman

Jakarta, 14 Juli 2014