ORANGTUA MILENIAL TETAP HARUS MEMBACAKAN BUKU UNTUK ANAKNYA

oleh Heni Wiradimaja

 

Masih ingat seperti apa rasanya saat dibacakan cerita oleh guru atau orangtua kita dulu? Menyenangkan, bukan? Tidak heran jika guru-guru pun sangat menikmati cerita Petualangan Sekeping Kancing yang dibacakan nyaring oleh Roosie Setiawan. Beliau adalah pendiri komunitas baca Reading Bugs yang diundang sebagai pemateri di lokakarya “Membacakan Nyaring; Cinta Membaca Memperluas Wawasan” yang diselenggarakan Yayasan Pustaka Kelana beberapa waktu lalu (10/03/2018) di perpustakaannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Apakah di era digital seperti sekarang kebiasaan membaca buku masih penting? Jawabannya, sangat penting! Terlebih karena media digital memuat konten yang sangat beragam, sehingga anak harus dibekali dengan kemampuan memilih bacaan bermanfaat yang berawal dari buku. Sayangnya, dari semua negara di dunia, Indonesia menempati peringkat yang sangat rendah dalam hal kebiasaan membaca buku.  Padahal, kebiasaan membaca buku sangat berperan dalam perkembangan intelektual dan sosial suatu masyarakat.

Sebagai wadah yang menyediakan sarana bahan bacaan untuk anak, remaja dan pembimbingnya, Pustaka Kelana percaya keterampilan membacakan nyaring pada orangtua dan guru bisa menggiring anak untuk memiliki minat membaca buku. “Perpustakaan kami sengaja tidak menyediakan koleksi buku pelajaran sekolah,” ujar Nasti M. Reksodiputro, Pembina Yayasan Pustaka Kelana saat memberikan sambutan, “karena kami ingin menumbuhkan minat baca melalui buku-buku yang menarik, yang biasanya tidak didapat dari buku-buku pelajaran sekolah.”

Juliani M. Budihardja, pemateri di sesi untuk orangtua pada lokakarya tersebut juga menekankan pentingnya pemilihan buku yang menarik. “Itu artinya visualisasi cerita tak kalah penting, terutama untuk anak usia dini,” ujarnya.

Mulai sekarang, buktikan saja anak yang sering dibacakan buku umumnya lebih kritis dan nantinya akan menjadi manusia pembelajar sepanjang usia. Langkah kecil kita akan membawa pengaruh besar pada anak.

——o0o——

 

BAPAK JEDI HEPIADI – GURU INSPIRATIF, KREATIF DAN INOVATIF

oleh Aryanti Hoed*

 

Bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional 2015 ke 70, Ayo Membaca Indonesia (AMIND) bersama para komunitas yang telah memberikan perhatian besar bagi guru-guru terpilih, ingin berbagi rasa syukur, haru dan terimakasih yang dalam. Hal ini juga sebagai penghormatan kepada guru dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dimana Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994 menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional. Sehubungan dengan hal ini maka AMIND mengajak Yayasan Pustaka Kelana (YPK) dan beberapa komunitas lain yang bergerak dan mempunyai perhatian besar di bidang pendidikan dan literasi untuk menjadi Co. Host di dalam gelaran acara “Penyerahan Penghargaan Bagi Guru Inspiratif, Kreatif Dan Inovatif”. Inti acara ini adalah memberikan penghormatan dan penghargaan kepada guru-guru terpilih atas jasa dan usaha tanpa lelah yang telah mereka lakukan selama perjalanan hidup mereka sebagai guru. Acara ini dilaksanakan pada hari ini yaitu, Rabu, 25 November 2015, jam 14.00 WIB sampai dengan selesai, dan bertempat di Plaza Insan Pendidikan Berprestasi, Lt.1 Gedung A/Gedung Ki Hajar Dewantoro, Jl. Jend. Sudirman – Senayan, Jakarta Selatan. Acara ini dibuka oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia yaitu Bapak Anies Baswedan berserta staf, dan dihadiri oleh banyak tokoh dan pegiat literasi Indonesia diantaranya adalah Ketua dan Founder gerakan Ayo Membaca Indonesia (AMIND) yaitu Bapak Dedi Panigoro berserta para pegawainya, dan Founder dan Kepala Program Yayasan Pustaka Kelana (YPK) yaitu Ibu Nasti Reksodiputro, dan Ketua Badan Pengurus YPK yaitu Bapak Mardjono Reksodiputro, dan Ibu Yaya Dahana sebagai salah satu narasumber YPK, beserta juga para pegawai YPK. Dan juga turut hadir kawan-kawan dari Bapak Jedi Hepiadi, guru terpilih penerima penghargaan AMIND dari seleksi YPK.
Kami, Yayasan Pustaka Kelana menyambut baik ajakan mulia dari AMIND ini, dengan melakukan pertimbangan terhadap beberapa kandidat guru. Menurut kami, sosok yang paling memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh AMIND yaitu inspiratif, kreatif dan inovatif adalah Bpk. Jedi Hepiadi. Beliau merupakan sosok guru yang patut menjadi contoh bagi guru-guru di masyarakat Indonesia bukan saja karena dedikasi dan komitmennya dalam menjalankan profesinya sebagai guru, tetapi juga sebagai pemrakarsa, pelatih, pembimbing, dan motor bagi program-program dan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk peningkatan kwalitas anak maupun pengajar di lingkungan masyarakat yang kurang mampu. Selama lebih dari 7 (tujuh) tahun, beliau mengorbankan waktu di luar pekerjaan tetapnya sebagai guru di Global Jaya suatu sekolah internasional. Pada tahun 2002 beliau mendirikan badan pendidikan guru yang disebut Edu-power 55, untuk meningkatkan mutu pendidikan guru di lingkung yang dibinanya. Edupower 55 mempunyai motto “The more you give, the more you receive” dan antara lain fokus pada tema “Berbagi” , yang berarti berbagi ilmu, berbagi rezeki dan berbagi kebahagiaan, sehingga memunculkan rasa peduli terhadap sesama. Pak Jedi meninggalkan pekerjaan tetapnya di sekolah Global Jaya, setelah bekerja di sana selama 15 tahun untuk dapat menyediakan lebih banyak waktu untuk mengelola Panti Asuhan dan beberapa sekolah yang masih dibinanya, seperti yang dapat dilihat dari Riwayat Pekerjaannya.
Yayasan Pustaka Kelana tertarik dengan kegiatannya meningkatkan minat baca di kalangan murid maupun rekan-rekan gurunya yaitu kegiatan yang sejalan dengan kegiatan Yayasan Pustaka Kelana. Kami sudah hampir 20 tahun bergerak dalam pelayanan untuk masyarakat tua maupun muda agar pengunjung perpustakaan kami mendapat bacaan bermutu untuk memperluas wawasan mereka, terutama pengunjung yang kurang mampu membeli buku. Dengan latar belakang yang disampaikan di atas, maka Yayasan Pustaka Kelana merasa Bpk. Jedi Hepiadi patut dijadikan contoh guru yang handal bukan saja karena beliau disenangi dan dihormati oleh murid dan rekannya, dan bukan semata karena memenuhi kriteria kreatifitas, inovasi, dan inspiratif, tetapi juga karena jiwa sosial dan dedikasi beliau dalam peningkatan mutu pendidikan anak bangsa tanpa pamrih.

*: Staf Yayasan Pustaka Kelana

——o0o——

7 Keuntungan Membaca*

 

7 keuntungan membaca dari mjlh Bobo

Membaca itu banyak keuntungannya, lo. Ini dia 7 diantaranya !

 

  1. Tahu lebih banyak.

Dengan membaca buku, kita akan mendapat banyak ilmu. Bahan bacaan itu tidak hanya dari buku saja, tetapi juga bisa dari koran, majalah, dan lain-lain. Banyak informasi dan pengetahuan tersebar dari berbagai sarana.

 

  1. Melatih konsentrasi

Saat membaca, mata dan otak kita menjadi fokus dengan apa yang kita baca. Jika kita sering membaca, maka kita akan lebih sering fokus sehingga konsentrasi kita jadi lebih meningkat.

 

  1. Daya ingat meningkat

Selesai membaca, cobalah kita ingat-ingat lagi dengan cara membuat rangkuman atau menceritakan kembali apa yang telah dibaca. Dengan begitu, daya ingat kita akan terus meningkat.

 

  1. Punya kosakata baru

Buku pasti punya banyak kosakata. Nah, jika kita rajin membaca kita akan menemukan kosakata yang belum kita temukan sebelumnya. Makin banyak membaca, makin banyak kosakata baru yang kita punya.

 

  1. Percaya diri untuk bicara

Dengan membaca kita mendapat banyak pengetahuan dan informasi. Dengan banyaknya pengetahuan dan informasi yang kita miliki itu, kita tidak perlu ragu untuk berbicara di depan umum.

 

  1. Jago berpikir

Sebuah tulisan umumnya terdiri dari susunan kata, susunan paragraf, ide pokok, induk kalimat, anak kalimat, dan lain-lain. Dengan sering membaca buku, otak kita jadi terlatih untuk berpikir secara sistematis.

 

  1. Jago menulis

Dengan sering membaca, kita jadi sering menemukan berbagai susunan kalimat, macam-macam gaya penulisan, dan kosakata baru. Dari situ kita jadi bisa belajar untuk membuat tulisan kita sendiri.

 

Nah membaca itu memang banyak keuntungannya, kan ?

 

*Artikel ini dikutip dari Majalah Bobo tanggal 13 Agustus 2015 halaman 41

——o0o——

ANDAI AKU BISA BICARA

karya Gol A Gong

di goa Heera aku menemukanmu
di gelap gulita aku menerangimu

waktu berdebu
menguburku

kau melupakanku di rak-rak
di sepi rumahmu
di mati perpustakaanmu
di ramai toko bukumu
di gelap kardusmu

tak pernah kau sentuh
aku sunyi bisu sendiri

tak pernah kau peluk
dengan sampul cinta

kau biarkan aku koyak
lembab dimamah rayap

Sini, sini, aku ingin bicara
mengabarkan setiap hurufku
memberimu ilmu
di setiap halamanku
mewujud mimpimu

Tapi kau tak mendengarkanku
saat aku menangis di sudut malam

kau berenang di negeri benderang
aku menggigil di kegelapan

sini, sini datanglah kepadaku
peluklah aku seperti mahkota ratu
merawatku dari hina debu
mengejaku dengan penuh cinta

kelak setelah seribu purnama
aku akan menjamu
memestakanmu penuh pesona

Andai aku bisa bicara
akan aku katakan kepadamu
:bacalah aku dengan cinta.

Rumah Dunia, 26 Nopember 2014

 

——o0o——

WISATA KE VILA BUKIT HAMBALANG

oleh Ria Silitonga*

Selama tiga bulan lebih satu minggu, peserta lomba Cinta Membaca datang ke Pustaka Mangkal setiap harinya untuk mengerjakan tugas yang merupakan syarat meraih hadiah yang disediakan dengan cuma cuma yaitu Wisata ke Vila Bukit Hambalang. Peserta yang mendaftar, berusia antara 5 tahun hingga 17 tahun dan sudah menjadi anggota perpustakaan Yayasan Pustaka Kelana. Mereka tidak mengenal lelah dan tetap semangat, meskipun sedang menghadapi ujian nasional dan ujian kenaikan kelas. Setiap hari mereka datang ke Pustaka Mangkal ,dan siap untuk menjawab pertanyaan dari buku yang telah dipelajari, kecuali peserta yang usianya 5 tahun. Karena belum bisa membaca, hanya dibacakan saja cerita cerita pendek, lalu ditanyakan tokoh tokoh yang disukai dan disuruh mewarnai gambar.
Sungguh luar biasa semangat mereka untuk meraih hadiah tersebut. Hari yang dinantikan yaitu Selasa 24 Juni 2014, peserta pemenang lomba dengan pembimbing, pengurus, undangan dan panitia berkumpul di Pustaka Mangkal. Pada pukul 8.00 wib rombongan berangkat menuju Wisata Vila Bukit Hambalang – Sentul Bogor. Sebuah bus yang cukup besar mengantar peserta-peserta nya ke tempat yang dituju. Tiba disana ,peserta disambut ramah oleh petugas petugas dengan sarapan pisang rebus, combro, teh dan kopi. Seusai sarapan semua peserta pemenang lomba Cinta Membaca dengan pembimbing mengikuti permainan permainan yang di pandu oleh dua orang yang juga petugas disana. Kegiatan mulai dari permainan menggunakan konsentrasi , membentuk 2 kelompok dan masing masing memberi nama kelompok dan diberi tugas menyebut kan yel,yel nya. Kelompok 1 diberi nama Pustaka dengan yel,yel, Pustaka..Pustaka..Pustaka..Yes!!! dan kelompok 2 mengucapkan Kelana dengan sambil bertepuk tangan 3 kali lalu mungucapkan’ ngiik..’ Yang minta yel itu adalah seorang anak kelas TK.
Selanjutnya kegiatan melukis caping ,dan membuat bentuk boneka salju, mangkuk dsb dari tanah liat. Peralatan semua tersedia dan kegiatan dibantu oleh pemandu.
Setelah acara makan siang, semua peserta bersiap siap menuju kolam ikan yang penuh dengan lumpur. Mereka semua terjun ke kolam dan berburu ikan mas. Kolam nya dangkal sehingga anak usia 5 tahunpun bisa mengikuti perburuan. Ada anak ketika dapat menangkap berteriak senang, tapi ikan jatuh lagi ke kolam lepas dari tangan. Tanpa menyerah anak anak terus mencari dan dapat menangkap ikannya. Begitu dapat ikan digenggam kuat kuat agar tidak lepas lagi dari genggaman tangan, lalu langsung dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah diisi air. Rata rata mereka bisa menangkap 2 hingga 3 ekor. Ukuran ikan kecil dan sedang. Anak anak ada yang mau pelihara ikan di akuarium di rumahnya , ada juga yang mau menggoreng setiba di rumah. Dengan pakaian penuh lumpur anak anak melanjutkan permainan yaitu, flying fox permainan yang banyak tantangan dan butuh keberanian. Akan tetapi anak semuanya punya keberanian uji nyali. Panjang tali 150 meter dengan tinggi 10 meter dari tanah ke atas. Secara bergantian anak anak mengikuti permainan tersebut dan dibantu oleh petugas cara menggunakan alat alat nya. Masing masing mereka setelah selesai permainan tersebut, langsung ke area kolam renang. Mereka saling bermain siram – siraman air di kolam dan tertawa senang 45 menit lamanya mereka berenang dan membilas. Karena waktu hanya sampai pukul 16.00, semua peserta siap siap untuk naik ke bus dan pulang ke Mangkal. Rasa senang dan bahagia terpancar di wajah anak anak semua. Semoga tahun depan lomba cinta membaca tetap di adakan. Kenangan yang terindah dan termanis di hati kita semua dari Vila Bukit Hambalang. Sampai jumpa ‘di Cinta Membaca‘ ke tujuh.

 

*: Staf Yayasan Pustaka Kelana
——o0o——

Kesan dari Mr. Maximilian Brendle*

When I first heard that we are going to go to a school close to Ancol, I thought why are we going there  since I visited Ancol before and to me this area did not look like it needs our help at all. Now I know that, despite Ancol is a beautiful place in Jakarta, the area surrounding it seems to have not been as lucky as Ancol itself  when it comes to attentiveness and welfare from the goverment.  After about an hour drive, in which we stuck in traffic, we reached the school and I cannot even describe how cheerful all the kids have been as soon as they have seen our little bus driving down the flooded road. All of them helped carrying our heavy boxes of books to their classroom, which was actually something I was expecting to do myself but at the time I got off our ride all of the boxes have been already gone – the children have been just way faster. It was wonderful to see all their faces smiling so much about some “new” books.

We entered the classroom and started to read to the kids. It was a book written in English to teach it to them at the same time. It was great reading to them since they have been unbelievably dilligent and they have been repeating every single word I said. Also, they have been curious and all of them have had so much fun, including me. After we have finished the book, its title is “Captain Ebeneezer” by the way, the kids had the opportunity to ask me anything they wanted. Fortunately my host sister was with us for this exercise since my Bahasa Indonesia is pretty bad and so sometimes it was very helpful to translate a couple of things.  Such as : “where are you from ?”, “how old are you ?”, “are you married yet ?”, and “why are you sweating so much ?” Those are just some of the huge amount of questions they have asked and it was my pleasure to answer all of them joyfully and I think all of us have had once again a lot of fun !

Last but not least the kids had to solve a crossword and finally we took some pictures all together. It was my pleasure to be just a little part of this wonderful program, Yayasan Pustaka Kelana, bringing some books to kids which are nothing but happy about them. Important, funny and rewarding, those are the adjectives describing best what kind of experience this has been to me and I will never forget it – all of you who have made this possible, thank you very much for having given me such an opportunity and even more for bringing not just books but also happiness, hope, and education to some kids living under those circumstances.

 

*: Relawan AIESEC dari Jerman yang telah berkunjung ke SDI Darussalam – Cilincing bersama Pustaka Kelana.
——o0o——

Perkumpulan Guru Bahasa Inggris

oleh Mudi Riyanti*

English Teachers Collaborative Group (Perkumpulan Guru Bahasa Inggris) mengadakan pertemuan bulanannya pada hari Sabtu tanggal 22 Februari yang lalu. Meskipun cuaca tidak mendukung karena hujan deras mengguyur Jakarta siang hari itu, tidak mematahkan semangat para guru yang haus akan ilmu untuk menimba ilmu bersama di Pustaka Mangkal yang bertempat di Ramawangun.
Guru-guru sangat senang karena pada hari itu hadir Ibu Patricia Jones dari Amerika yang bisa dijadikan narasumber untuk diskusi. Kebetulan temanya adalah “Custom and Habit” jadi pas banget dengan kebutuhan guru-guru untuk mengetahui kebiasaan orang Amerika dalam bersikap dan bertingkah laku.

Ms Patricia Jones orang yang sangat lucu sehingga diskusi siang hari itu mengalir dengan lancar dan menyenangkan. Kami membicarakan tentang cara bersikap dengan orang tua, cara berkunjung ke teman atau saudara dan kebiasaan-kebiasaan yang lain. Ms Patricia terbengong-bengong dengan rumitnya panggilan-panggilan dalam keluarga Jawa yang dibeberkan oleh Lasmi. Kami juga jadi tahu kalau keluarga di Amerika tidak biasa untuk tinggal bersama orang tua mereka saat sudah menikah. Kami juga tahu betapa sederhananya panggilan orang Amerika kepada yang lain. Kami jadi semakin bangga sebagai bangsa Indonesia yang sopan dalam memanggil orang dengan sebutan Mas, Mbak, Uda, Akang dan lain-lain.

Yang paling penting adalah kami bisa praktik berbicara langsung dengan penutur asli (native speaker) Bahasa Inggris. Para guru tidak takut untuk berbicara meskipun belum lancar berbahasa Inggris karena suasananya memang dibangun dengan penuh kekeluargaan, homy sekali. Kami sangat merasakan manfaat dari pertemuan bulanan yang sudah berjalan hampir 3 tahun ini. Dulu guru-guru tidak seberani sekarang dalam berbicara menggunakan bahsa Inggris, apalagi berbicara dengan penutur asli, tapi sekarang mereka percaya diri sekali menuangkan pikiran meskipun tetap selalu ada yang perlu diperbaiki.

Semoga semakin banyak guru yang menyadari pentingnya meningkatkan potensi dan pengembangan diri dengan menghadiri pertemuan-pertemuan semacam ini.

 

*: Guru Bahasa Inggris di SMA, saat ini sedang mengikuti pendidikan S-2.
——o0o——

Mengadakan Eksperiman Sains di Lokasi Perpustakaan Keliling

oleh Ria Silitonga*

Eksperimen/percobaan sains diadakan di lokasi untuk menambah kegiatan bagi anak-anak pengunjung.
Bahan atau peralatan yang diperlukan untuk setiap eksperimen dipilih yang mudah dicari dan mudah dibawa ke lokasi. Tempat atau ruangan nya bisa dilakukan dimana pun.
Eksperimen sains yang sederhana ini cukup disukai dan disenangi anak-anak pengunjung, mereka dengan antusias mengajukan pertanyaan dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan.
Dengan adanya kegiatan ini anak-anak jadi rajin/bersemangat datang ke lokasi.  Di Sekolah Anak JAlanan (SAJA) dan DAKSINAPATI (komplek UNJ), mereka umumnya berusia antara 4 (TK kecil) sampai dengan 14 tahun (SMP). Kalau di lokasi sekolah; dari kelas 3 sampai kelas 6 SD. Anak-anak serius memperhatikan dan mengamati jalannya eksperimen sains.
Melalui eksperimen sains ini, anak jadi terbuka pikirannya kepada lingkungan sehari-hari dan wawasan pengetahuan anak pun bertambah,  Mereka jadi belajar  akan sifat-sifat tiap tiap benda, misalnya : air, minyak sayur, air soda, sabun cair, dan madu memiliki sifat dan kerapatan yang berbeda-beda; meskipun sama-sama benda cair.
Selain itu anak juga mau/dapat menguji coba sendiri di rumahnya. Contohnya adalah :”Kertas yang tidak terbakar oleh api” Alat dan bahan yang digunakan mudah mereka cari yaitu: kertas koran, kaleng bekas tempat rokok, lilin, korek api, dan selembar tissue kering.
Pada pertemuan berikutnya di lokasi SAJA , mereka memberitahukan hasil dari uji cobanya bahwa kertas koran tidak terbakar, panas api lilin merembet ke dalam kaleng dan terasa panas, lalu mengeluarkan asap dan bau. Warna hitam pada kertas koran tidak dapat dihapus dengan tissue. Uji coba yang saya lakukan sebelumnya di lokasi menggunakan kertas HVS dan kaleng bekas minuman soda (pocari sweat ).  Kertas HVS dipotong seukuran kaleng lalu dililitkan ke kaleng setelah  itu ditaruh diatas api lilin. Kaleng terasa panas, kertas  tidak terbakar dan tidak mengeluarkan asap. Warna hitam pada kertas dapat dihapus dengan tissue.
Melalui ujicoba yang mereka lakukan , anak jadi dapat membedakan antara kaleng bekas minuman soda dengan kaleng  bekas tempat rokok, begitu juga kertas HVS denga kertas Koran. Masing-masing memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda. Asap berasal darimana dan benda apa (yang terbakar). Anak-anak jadi bisa membedakan bau asap melalui penciumannya (hidung).
Eksperimen sains yang sederhana  untuk lingkungan kehidupan sehari-hari sangat diminati anak-anak di lokasi  Perpustakaan Keliling.
Setiap kami sampai di lokasi, anak-anak bertanya: “Ada eksperimen  ya Kak ?” Apabila kami sedang kemas-kemas mau pulang, anak-anak bertanya : “ Minggu depan bikin eksperimen lagi  ya Kak ?”. Dan saya jawab “ya”.

 

*: Staf Yayasan Pustaka Kelana
——o0o——

Salah Siapa ?

oleh S. Belen*

Jangan salahkan anak suka menyontek, siapa tahu kita pun menyontek waktu mengikuti tes!

Jangan salahkan anak berbicara kasar, siapa tahu kita pun suka membentak anak!

Jangan salahkan anak berkata bohong, siapa tahu kita pun suka main akal-akalan!

Jangan salahkan anak suka membolos, siapa tahu kita pun sering tidak datang ke sekolah dengan alasan mengada-ada!

Jangan salahkan anak memanggil Pak Matematika, Bu Fisika, Bapak Galak, Ibu Judes, siapa tahu kita pun tidak mengenalnya dan tidak pernah memanggil namanya!

Jangan salahkan anak malas membaca, siapa tahu kita pun jarang membaca koran dan buku!

Jangan salahkan anak tidak jujur, siapa tahu kita pun sering tidak jujur!

 

*: dikutip dari http://sbelen.wordpress.com/2011/05/14/jika-suka-memvonis-anak/
——o0o——